rotesmansda.blogspot.com
Aku membuka pintu kamarku
yang tadinya terkunci. Ku amati sekelilingnya sebentar, lalu aku membuang tasku
dan menjatuhkan tubuhku yang masih mengenakan sepatu ke atas tempat tidur.
Aku masih mengingat
kejadian semalam sebelum aku tidur. Antara mimpi dan kenyataan, memang. Sesosok
pria berbadan tegap dan tinggi datang menghampiriku ketika aku belum dapat
memejamkan mataku. Tak begitu terlihat jelas, karena malam itu aku sudah
mematikan lampu kamarku.
Aku terperanjat, dari mana
ia masuk? Siapakah sosok pria itu? Yang aku lihat hanya bayangan hitam yang
gelap. Sampai saat ini, otakku masih penuh dengan tanda tanya tentangnya.
Sesaat aku melupakan
peristiwa semalam. Aku baru sadar kalau aku sendirian di rumah. Dengan langkah
sigap, aku memeriksa kamar Mama.
“Ma…? Mama…?” aku panggil
mama beberapa kali. Tetapi sama sekali tak ada jawaban. Hanya suara hembusan
angin yang ku dengar. Langkahku terhenti sejenak. Tak lama aku bergegas ke
kamar Anton, kakakku. Tetapi tampaknya ia juga tak ada di kamarnya.
“Dasar bodoh! jelas aja dia
nggak ada di kamarnya. Emang, hari ini hari libur? Kadang, hari libur pun, dia
nggak betah di rumah.” aku berkata-kata sendirian. Berusaha menghibur diri
sendiri.
Dengan langkah gontai, aku
kembali menuju kamarku. Bete juga kalo
sendirian. Nggak bisa ngapa-ngapain. Kalo lagi gini… enaknya ngapain, ya? Aku
malah jadi ngelamun.
Aku menutup pintu kamarku.
Di balik pintu, terlihat secarik kertas berisi tulisan tangan Mama.
Citra sayang,
Maaf Mama mendadak pergi
tanpa memberi tahu kamu. Mama ke Sukabumi selama tiga hari. Ada bisnis dengan
teman Mama. Ini Mama kasih uang saku untuk kamu. Jangan lupa beritahu Anton.
Take care, ya!
-Mama-
Aku menghitung beberapa lembar uang puluhan
ribu yang Mama lampirkan di surat itu. Uh! Sebel! Mama selalu begini. Pasti
pergi mendadak kalau Mama sudah mengurusi hobi mengoleksi mutiara-mutiara itu.
Lagipula, kenapa sih Mama
nggak taruh pesan itu diatas TV, di meja telepon atau di mana saja yang
letaknya lebih strategis daripada di belakang pintu?
Tunit… tunit… tunit…
Deringan telepon yang
letaknya tak jauh dari kamarku itu telah membuat aku tersentak. Dengan malas
aku, aku berdiri meraih gagang telepon itu.
“Hallo?”
“Citra, ya? Cit, gue malem
ini nggak bisa pulang,” suara kakakku terdengar di seberang sana.
“Emang kenapa, Ton?”
tanyaku sambil memindahkan posisi gagang telepon.
“Gue nginep di rumah temen
kantor, ada kerjaan lembur, Cit. Cuma sehari kok.“
“Sehari?”
“Iya. Bilangin sama Mama ya,
Cit.” pinta Anton.
“Uuhh.…” aku langsung
ngeluarin aksi ngambekku. “Citra sendirian nih! Mama pergi ke Sukabumi tiga
hari.” ucapku sedikit memelas. Mudah-mudahan saja Anton mau membatalkan
kata-katanya barusan.
“Bisnis mutiara lagi, ya ?”
“He-eh!” jawabku singkat
dengan nada manja.
“Gue cuma sehari, kok.
Besok malem gue pulang.”
“Nggak bisa! Elo harus
pulang sekarang! Citra takut nih sendirian!”
“Takut ama apaan sih? Udah,
pokoknya gue baru bisa pulang besok malem! Dah dulu ya, Cit. Take care,“ Anton
menutup gagang teleponnya lebih dulu.
Take care! Take care! Mama
sama Anton justru yang nggak care sama aku. Mau marah, marah sama siapa?
Akhirnya, jadi marah sama diri sendiri. Hari ini nyebelin banget sih? Sendirian
di rumah? Aku jadi inget sama film Natal ‘Home alone’. Emang stok lama sih,
tapi masih aja bagus walau aku sudah nonton berkali-kali.
Daripada bengong, enaknya
ngapain, ya? Duh, kenapa nggak kepikiran dari tadi sih? Ngajak Restu, teman
kampus sekaligus tetanggaku nginep di rumah mungkin bisa bikin suntuk yang dari
tadi terasa ini jadi hilang?
Bergegas aku mengganti baju
kuliahku yang dari tadi pagi aku kenakan. Hanya dengan beralaskan sandal jepit,
aku berlari menuju rumah Restu.
* * *
Malam
ini, aku benar-benar sendiri. Restu tak bisa menemaniku karena Ibunya yang
sudah tiga hari ini terkena demam tinggi. Pastinya, Restu akan lebih memilih
menemani Ibunya ketimbang aku. Lalu, siapa lagi yang bisa menemaniku? Di
kampus, aku memang tak punya banyak teman. Di saat-saat seperti inilah aku
sering menyesali diriku karena tak punya banyak teman.
Untuk menghilangkan rasa
takut, aku menghidupkan televisi dengan suara yang cukup keras. Tak peduli
tetangga kebisingan atau tidak, yang penting aku bisa menghilangkan rasa
takutku. Di tambah lagi dengan cemilan yang aku beli di toko makanan sebelah
rumahku, menambah kenyamanan menontonku.
Sudah satu jam aku berada
di depan televisi. Hati ini bukannya tenang, malah semakin berdetak kencang.
Sepertinya, ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku. Tetapi entah apa itu.
Brakk !!!
Pintu ruang tamu tiba-tiba
terbuka sendiri. Tubuhku mulai bergidik. Aku merinding. Terlebih lagi tadi aku
sempat menonton film horror ’The Ring’. Aku coba mengamati ke depan rumah. Aku
sedang mencari-cari alasan, apa yang membuat pintu itu terbuka sendiri? Padahal
tak ada angin sama sekali.
Aku mengamati sekeliling.
Tak ada yang aneh di sekitarku. Aku sangat takut. Apa hal kemarin malam akan
aku alami lagi? Oh, tidak! aku merasa ada seseorang lagi di sini selain aku.
Siapakah itu? Aku semakin takut. Apa yang harus aku lakukan sekarang ?
“Citra…” suara itu
sepertinya terdengar tepat di belakangku. Aku mencoba palingkan wajahku ke
belakang pelan-pelan untuk melihat wujudnya.
“Apa kamu bisa melihatku?”
tanyanya pelan. Suaranya hampir tak terdengar. Aku hanya mendengar desahan dari
mulutnya. Sesosok tubuh tinggi tegap yang kemarin malam menghampiri tidurku terlihat
menebar senyumnya padaku.
Astaga!! Aku benar-benar
terkejut dengan keberadaannya. Rasanya aku ingin berteriak. Tetepi entah
kenapa, bibirku ini sepertinya terkunci. Dan nyatanya, aku terdiam cukup lama
setelah mengamati wujudnya yang sekarang tengah berdiri di depanku. Sekali
lagi, wajah pucat pria yang putih bersih itu tersenyum sangat ramah padaku.
Tetapi, tetap saja rasa takutku tak juga hilang.
“K… ka… mu… s… si… siap…
pa?!” kataku terputus-putus.
“Kamu nggak usah takut,
Citra. Aku nggak akan berbuat jahat sama kamu,”
“K… ka… kamu… m… mau apa?!
D… dari… dari mana kamu t… tahu… namaku?” tanyaku masih dengan nada ketakutan.
Aku mundur selangkah ke belakang. Karena ia mulai mendekati aku.
“Citra, jangan takut. Aku
nggak akan nyakitin kamu. Percayalah.” ia sedikit memohon padaku.
Sementara aku tak tenang.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Wajahku menjadi makin pucat. Sepucat dirinya.
Lebih mengejutkan lagi, ia mengetahui namaku.
“Citra, tenangkanlah
dirimu. Aku…”
“Siapa kamu…?! Tolong,
jangan ganggu aku…” aku memotong kalimatnya. Aku tidak tahu lagi apa yang harus
aku katakan. Aku juga tak tahu apa yang harus aku perbuat. Aku benar-benar
takut. Saat ini aku hanya mengharapkan datangnya keajaiban dari Tuhan.
“Aku nggak bermaksud untuk
mengganggu kamu, Citra. Aku hanya ingin minta tolong! Karena saat ini, hanya
kamu yang mampu melihatku. Hanya kamu yang dapat menolongku,” jelasnya pelan.
“Kalau kamu bisa tenang, aku akan jelasin semuanya,” ia melanjutkan
kata-katanya. Aku mencoba menuruti perintahnya untuk tetap tenang.
* * *
Setengah
jam kemudian, tepatnya jam 11 malam aku sudah mulai dapat mengontrol diriku. Ia
mencoba memperkenalkan dirinya padaku. Menceritakan semua tentang dirinya dan
kehidupannya padaku. Ternyata, ia memang bukan makhluk jahat seperti yang aku
perkirakan. Ia hanya makhluk malang yang terbuang dan terlantar ke pinggiran
kota.
Namanya Bagus. Entah kenapa
harus aku yang ditakdirkan untuk bertemu dengan ruhnya. Ia mengatakan kalau ia
sudah meninggal kemarin malam. Tepat ketika ia mendatangkan aku pertama kalinya
ketika aku ingin pergi tidur. Ia mati karena di bunuh oleh seorang ‘lintah
darat’ karena ia belum bisa melunasi hutang-hutang keluarganya pada ‘lintah
darat’ itu. Memang hutangnya sudah bertahun-tahun belum dibayar. Dan hutang itu
pun sudah berlipat ganda karena berbunga. Keluarga Bagus mencoba membayarnya
dengan mencicil sedikit demi sedikit. Tetapi tetap saja mereka tidak bisa
melunasi hutang-hutangnya. Karena keluarga Bagus sulit untuk mendapatkan uang.
Bagus mengatakan bahwa dirinya memang dari keluarga yang kurang berada.
Yang lebih mengenaskan
lagi, setelah dibunuh, mayat Bagus dibuang di sungai belakang rumahku dan ditinggalkan
terlantar begitu saja.
“Aku nggak tahu harus minta
tolong pada siapa lagi. Tak ada yang peduli padaku, Citra. Karena tak ada yang
bisa melihatku. Aku saja sempat kaget ketika tadi kamu mengetahui
keberadaanku,” jelas Bagus. Dengan wajah biru dan pucat, ia mulai meneteskan
air matanya.
“Citra, tolong aku. Aku
tidak mau melihat jasadku terlantar dan hanyut terbawa arus sungai,” Bagus
melanjutkan kata-katanya.
Sementara aku hanya diam.
Aku bingung, apa yang harus aku lakukan untuk membantunya? Aku tidak dapat
melakukan hal ini sendirian.
“Aku… ikut simpatik atas
apa yang telah menimpa kamu, Gus. Tetapi, apa yang bisa aku bantu?” aku
mengernyitkan dahi dan meletakkan kedua tanganku di daguku.
“Aku hanya ingin orang yang
membunuhku itu ditangkap.” terdengar ada perasaan dendam dibalik kalimat yang
barusan Bagus katakan. “Aku takut ia juga mencelakakan keluargaku. Aku juga
ingin jasadku ditemukan dan cepat-cepat di makamkan. Aku tak ingin jadi hantu penasaran,“
pinta Bagus padaku.
Aku jadi semakin bingung.
Aku bukan Tuhan yang bisa mengangkat ruhnya begitu saja dan pergi ke dunia yang
lain. Aku juga bukan detektif yang dengan mudah memecahkan segala macam kasus.
Aku bukan juga polisi yang memiliki banyak ajudan dan mencari jasad yang hilang
dengan sigap dan cepat. Aku ini hanya manusia biasa dan tidak punya pengalaman
apa-apa tentang hal ini.
“Tapi… keluargamu kan,
tinggal di Jakarta. Kalau dari Bogor sini… nggak ah! aku takut bepergian jauh
sendirian untuk menemui keluarga kamu,”
“Aku nggak menyuruh kamu
untuk pergi menemui mereka. Laporkan saja peristiwa pembunuhan ini pada polisi,
itu akan lebih memudahkan kamu.” ujar Bagus memberikan saran.
“Nggak mungkin saat ini,
Gus. Kita belum menemukan bukti! jasad kamu aja belum ditemukan. Kalau aku
melapor polisi tanpa bukti, nanti malah aku yang dituduh mempermainkan polisi,”
aku berdiri dan mondar-mandir di sekitar ruang tamuku.
“Kalau begitu, kita harus
menemukan bukti lebih dulu. Besok, aku akan mencari tubuhmu yang hanyut di
sungai itu. Kau akan temani aku, kan?” lanjutku dengan semangat. Aku lihat,
Bagus tersenyum senang karena aku mau membantunya. Ia mencoba memegang kedua
tanganku tanda mengucapkan terima kasih. Tetapi, tangannya sama sekali tak bisa
menyentuh tubuhku.
* * *
Sudah
dua hari aku dan Bagus mencoba mencari tubuhnya yang hilang. Aku menelusuri
aliran sungai di belakang rumahku. Aku dan Bagus sudah berjalan cukup jauh.
Kami sudah berjalan kira-kira 2 KM lebih. Aku juga menyandang tas ransel besar
berisi bekal, kompas, senter, tali serta alat-alat untuk membantu dan
mempermudah mencari jejak tubuh Bagus yang pastinya sudah mulai membusuk.
Kemarin, aku dan Bagus
berhasil menemukan potongan baju yang terakhir kali dikenakan Bagus. Potongan
baju itu tersangkut di ranting-ranting pohon yang jatuh di pinggir sungai.
“Gus, aku lelah.” kuseka
keringat yang menetes di sekitar wajahku dengan sapu tangan. Kemudian aku duduk
di bebatuan pinggir sungai.
“Kita istirahat aja dulu,
kamu pasti capek banget setelah dua hari membantu mencari jasadku yang hilang,”
“Nggak apa-apa kok. Aku
seneng bisa bantu kamu. Mmm… itung-itung lagi belajar jadi detektif,“ jawabku
sambil tersenyum.
Sengatan matahari yang
lumayan terik telah membuat tenggorokanku kering dan perutku semakin kosong.
Untungnya, aku tidak lupa untuk membawa bekal sebelum aku berangkat ke sungai
ini untuk mencari dan menemukan jasad Bagus.
Ketika aku sudah menyantap
setengah dari makan siangku di pinggir sungai, seorang bapak setengah tua
datang menghampiriku dan menyapaku ramah.
“Neng teh, lagi ngapain di sini sendirian? Neng
lagi makan?”
Sendirian? Enggak kok. Aku
kan, berdua sama Bagus. Ups!! Oh iya! Aku lupa kalau hanya aku yang dapat
melihat Bagus.
“Iya, Pak.“ aku membalas
pertanyaan dan mengembalikan senyuman ramahnya.
“Kok bawa tas besar segala?
Sebenarnya, Neng lagi ngapain di sini? Sendirian, lagi. Tidak baik atuh perawan
geulis kayak Eneng sendirian di pinggir sungai ini. Kata orang mah, pamali.“
tanya bapak itu sekali lagi padaku.
“Ng… saya… saya… lagi…”
“Cit, jangan bilang kamu
sedang mencari jasadku. Aku yakin kamu bisa cari alasan lain,” ucap Bagus
padaku.
“Lagi… mmm… penelitian,
Pak.” aku melanjutkan kalimatku yang tadi terputus.
“Penelitian? Di pinggir
sungai seperti ini?” bapak itu bertanya lagi. Kali ini, ada sedikit nada curiga
pada kata-katanya.
“Mm… saya…” aku menggaruk
kepalaku yang tidak gatal. Entah kalimat apa yang akan aku lanjutkan untuk
menjelaskan pada bapak setengah tua itu. Aku hanya bisa memandang bergantian
antara Bagus dan bapak ini yang kini berada di depanku.
“Saya… sedang mengamati…
limbah sungai ini, Pak. Iya… benar, Pak. Limbah industri. Sekarang ini kan,
sedang marak-maraknya tercemarnya air sungai karena limbah industri.” yup.
Tepat sekali ucapanku. Akhirnya kalimat itu tersusun rapi dan terucap begitu
saja.
“Oo… bilang atuh dari tadi.
Penelitiannya buat bahan kuliah, ya?”
“I… iya, Pak.” aku mencoba
menyembunyikan kebohonganku dengan senyum.
“Setahu bapak sih, di
sungai ini tidak tercemar limbah industri. Soalnya, di Bogor sini, nggak ada
pabrik. Harusnya, Neng ke Jakarta saja. Sungai Ciliwung, Neng. Di sana sudah
tidak salah lagi. Sudah tidak bersih lagi airnya, bla…bla…bla…” bapak setengah
tua itu terus berbicara tentang sungai Ciliwung.
Aku mulai bosan
mendengarkannya. Tetapi aku tetap berusaha untuk tersenyum.
“Hati-hati, Neng. Bahaya
sendirian di pinggir sungai ini. Arusnya cukup deras,”
Bapak setengah tua itu
mengakhiri kalimatnya. Aku mengangguk kemudian tersenyum kembali. Tak lama, ia
pun pergi meninggalkan aku dan Bagus.
“Huhh… hampir aja
ketahuan.” ucapku sambil mengelus dada. Kemudian aku melihat Bagus yang sedang
tertawa kecil di sebelahku.
“Apanya yang lucu? Bukannya
nolongin, malah diketawain. Dasar hantu jahil!“ aku mengemasi makan siangku
yang belum habis, dan memasukkan kembali ke dalam tas ranselku.
“Kok nggak diabisin sih
makan siangnya?” tanya Bagus masih sambil cekikikan.
“Kenyang!!” jawabku jutek.
“Manis juga ya, kalo kamu
lagi marah,” ledek Bagus. “Bener kan, tebakanku, kamu pasti bisa sedikit
berbohong.” ucap Bagus mencoba menyanjungku.
“Kalo bukan karena kamu,
aku pasti sudah beberi cerita ini pada seluruh warga! Emangnya kenapa sih, kita
harus menyelidiki kasus ini secara diam-diam? Bukannya kalau warga sekitar sini
tahu, kita akan lebih mudah mengungkapkan kasus ini? Mereka pasti mau membantu
mencari jasadmu yang hilang, Gus.”
“Aku hanya nggak mau warga
jadi geger karena ada penemuan mayatku,”
“Bagus… cepat atau lambat,
pasti warga tetap geger setelah mereka tahu dan menemukan mayat kamu! kalau di
desa ini telah terjadi pembunuhan!” agaknya aku sedikit stres dengan masalah
ini. Bagus hanya menunduk lemah tanpa kata. Entah apa yang ia pikirkan saat
ini.
* * *
“Cit… Citra… bangun, Cit!
Di sungai seberang hutan sana, ditemukan mayat, Cit!” Mama mencoba
mengoyang-goyangkan tubuhku.
“Apaan sih, Ma? Lho…? Mama
udah pulang?” aku membuka mataku perlahan-lahan. Kata-kata Mama barusan, aku
dengarkan dalam keadaan setengah sadar.
“Tadi, dalam perjalanan
pulang, Mama melihat di sungai seberang hutan sana, sudah dipenuhi banyak warga
dan polisi. Ada penemuan mayat, Cit!” Mama mencoba menjelaskannya padaku.
Mayat? mataku terbelalak
mendengar kata-kata Mama.
“Mayat siapa, Ma?” tanyaku
mencoba mengorek informasi dari Mama.
“Mama juga kurang tahu
katanya, bukan warga sekitar sini. Makanya, Cit! kita lihat ke sana aja biar
lebih jelas,” ajak Mama.
Tanpa mengganti baju
tidurku, aku langsung berlari ke lokasi TKP penemuan mayat itu.
“Ma… di mana?” tanyaku
tergesa-gesa sambil melangkah kakiku dengan cepat dan mencari tempat yang kami
tuju.
“Di depan sana, Cit. Malah,
kakakmu sudah lima belas menit yang lalu berada di sana,”
Di jalan menuju TKP, aku
sangat resah. Apa benar itu jasad Bagus? Lalu di mana Bagus sekarang? Kenapa ia
tak ada didekatku saat ini? Apa ia tahu bahwa jasadnya saat ini telah ditemukan
? bagaimana dengan keluarganya ? mereka pasti mencemaskan Bagus. Oh… pikiranku
kacau! Semuanya jadi melayang tak tentu arah.
“Di sana, Cit!” Mama
menunjuk ke arah di mana mayat itu ditemukan.
Di sana telah terlihat
kerumunan orang mengelilingi jasad yang baru diangkat dari sungai itu. Seorang
ibu muda yang menemukan jasad itu saat ia sedang mencuci pakaiannya di pinggir
sungai. Ia melihat ada sesuatu yang bentuknya aneh mengambang di pinggir kali.
Saat itu juga, ibu muda itu berteriak histeris memanggil warga sekitar, lalu
menghubungi polisi.
Aku ingin cepat-cepat
melihatnya dari dekat. Entah di mana Mama sekarang. Aku berpisah darinya. Aku
mencari tempat yang tidak begitu sesak untuk menyusup di antara kerumunan warga
yang ingin melihat langsung tubuh yang tidak bernyawa itu dari dekat. Aku ingin
membuktikan, apakah tubuh itu milik Bagus ?
Aku menangis, menangis
sejadi-jadinya ketika melihat tubuh lusuh dan terbujur kaku itu ternyata benar
milik Bagus. Wajahnya, kini tak berbentuk wajah putih bersih milik Bagus.
Pakaian yang melekat di tubuh itu pun sudah compang-camping, rusak di makan
arus sungai yang deras. Air mataku makin tak kuat aku bendung lagi ketika aku
melihat ruh Bagus berada di samping tubuh lusuhnya. Ia juga terlihat sedang
menangis. Menangisi dirinya karena mati sia-sia. Tak lama, aku melihat Bagus
tiba-tiba menghilang meninggalkan tubuhnya dan melayang entah kemana.
Aku mencoba mencarinya dan
pergi dari kerumunan warga yang mengelilingi jasad itu.
“Bagus…? Kamu di
mana…?Gus…? Aku tahu kamu pasti sedih sekali setelah kamu melihat…”
“Aku di sini, Citra. Di
belakangmu.” ucap Bagus memotong kalimatku. Tanpa berpikir panjang, aku
palingkan wajahku ke belakang. Ku lihat ruh tampan itu menangis tak berdaya.
Aku menarik nafas panjang.
Aku berusaha dan mencoba untuk menenangkannya.
“Gus… tabah, ya. Bukankah
ini yang kamu inginkan? melihat jasadmu ditemukan?” aku bertanya pada Bagus.
Aku tak ingin menyinggung perasaannya. Aku hanya bisa mengamatinya. Ia juga tak
bisa langsung menjawab pertanyaanku.
Ia masih saja menyeka
butiran air mata yang belum berhenti menetes di pipinya. Aku melihat, keadaan
Bagus saat ini sudah agak baikan setelah ia melihat tubuhnya dibungkus dan
dimasukkan ke dalam mobil jenazah yang datang 10 menit yang lalu.
“Cit, aku… ingin
mengucapkan terima kasih. Jasadku kini telah tertolong. Polisi kini sedang
menyelidiki siapa orang yang membunuhku. Dan tubuhku akan diautopsi dan divisum
terlebih dahulu sebelum tubuhku ini dikembalikan kepada keluargaku,”
“Apa… mereka sudah tahu
tentang kematianmu?”
“Ya. Setelah polisi
berhasil mencari tahu identitasku, mereka langsung menghubungi keluargaku di
Jakarta. Cit, sekali lagi… aku ingin mengucapkan terima kasih,”
“Kamu nggak perlu berterima
kasih padaku, Gus. Lagi pula, polisi dan warga-lah yang berjasa padamu, karena
mereka yang menemukan dan mengurus jasadmu. Apa aku bilang, cepat atau lambat
mereka akan menemukanmu,” aku tersenyum.
“Cit… aku harus pergi.
Jasadku akan segera diberangkatkan. Aku harus selalu berada di samping jasadku
sebelum dimakamkan,” wajah putih pucatnya kini berubah menjadi muram.
“Selamat tinggal, Gus.” aku
melambaikan tanganku ketika sosoknya melayang mengikuti mobil jenazah itu. Dari
jauh, Bagus masih terlihat tersenyum padaku.
“Bagus… aku senang bisa
kenal sama kamu!” teriakku dari jauh.
“Cit…? Lagi ngomong sama
siapa?” Mama menepuk pundakku dari belakang. Aku sedikit tersentak. Tetapi aku
berusaha untuk tetap tenang.
“Iya, lo! Kayak orang nggak
waras aja ngomong sendirian, duh… sempet nangis juga, Cit? terharu nih,
ceritanya?” ucap Anton ikutan nimbrung.
“Enak aja! Citra tuh masih
waras, tau!”
“Trus, ngapain ngomong
sendiri?”
“Biarin!”
“Udah, udah. Ayo kita
pulang. Mama jadi ngeri kalo ngeliat yang beginian,” Mama merangkul bahuku dan
bahu Anton. Walau tanpa Papa, kami adalah keluarga sederhana yang bahagia.
Aku membayangkan betapa
sakitnya keluarga yang Bagus tinggalkan mendengar ia telah tiada. Memang bagai
teriris mendengar berita tentang kepergian salah seorang anggota keluarga yang
kita sayangi. Aku juga merasakannya dulu waktu kepergian Papa. Semoga keluarga
Bagus dapat menerima kepergiannya dengan Tabah. Dan semoga Bagus dapat diterima
di sisi-Nya.
0 komentar:
Posting Komentar